SISTEM VIDEO POLINEMA
Rabu, 18 Mei 2022
Selasa, 19 April 2022
Senin, 18 April 2022
WARNA
WARNA
Guna memahami tehnik
televisi-warna, kita perlu mengetahui sedikit tentang warna.
1.1 CAHAYA PUTIH
Cahaya yang tampak oleh mata (cahaya putih) adalah sebenarnya gelombang elektromagnetik
dengan frekwensi setinggi kira-kira 3x108 MHz atau dengan panjang-gelombang 104 uM
(mikro Meter). Cahaya ini adalah sebenarnya menempati jalur yang sangat sempit
di dalam spektrum-frekwensi gelombang2
elektromagnet.
Ternyata, bahwa cahaya putih dapat
diuraikan ke dalam warna2 yang terdapat di dalam pelangi, yaitu: merah, jingga,
kuning, hijau, biru dan ungu. penguraian ini dapat dirakukan secara berikut:
Cahaya (dari Matahari) dimasukkan rewat celah
yang sempit ke ruang gelap. Di berakang celah ini ditaruh
prisma. Di belakang prisma direntangkan rayar putih. Maka Cahaya yang masuk lewat celah itu diuraikan
ke dalam warna-warni tersebut oleh prisma. dan ditampakkan di layar.
Setiap warna dari spektrum warna adalah suatu
gelombang elektro-magnet dengan panjang gelombang tertentu.
Merah mempunyai panjang-geiombang 700x10-6 mm,
(= 700 nano meter
nm).
Ungu
mempunyai panjang gerombang
400x10-6 mm (= 4oo nano meter). Lihat Gambar I.1.
Gambar I.1. Cahaya
putih dapat diuraikan dalam
warna2 yang berada
dalam suatu spektrum Warna
yang kontinu, mulai dari merah hingga ungu.
1.2. MEMPEROLEH PUTIH DARI MERAH, HIJAU DAN BIRU
Dengan menyampur-nyampurkan
merah (M), hiiau (H) dan biru (B) akan dapat kita peroleh berbagai
warna-warni. (Penyampuran itu harus dengan cara penambahan (additive). yaitu: se-akan2 warna2 itu di-tumpang2 kan
pada selaput mata kita,
Karena itu merah, hiiau
dan biru dinamai dengan warna-warna
primer.
Gb.1.2 Warna2 apakah yang diperoleh apabila merah (M), hijau (H) dan biru (B) saling ditambahkan.
Lihat Gb.1.2 Warna2 itu adalah
hasil percobaan yang dilakukan dalam ruang gelap. Pada layar putih kita jatuhkan cahaya2 merah, hijau dan biru. Dalam
bidang dimana merah, hijau dan biru
saling bertindih maka terjangkitlah
putih. Kejadian ini dapat kita tuliskan dalam rumus:
M + H + B = putih ...................................... (1)
Merah + Hijau + Biru = putih
Dan kita
lihat dalam Gb.1-2 itu, bahwa:
M + H = kuning
merah + hijau = kuning (yellow)
M + B = lembayung (magenta)
merah + biru = lembayung (magenta)
B + H = cyan
biru + hijau = cyan
1.3 WARNA WARNA
KOMPLEMEN
Di bawah ini adalah
contoh2 bagaimana kita akan dapat memperoleh sesuatu warna
dengan jalan
menambah-nambahkan merah (M), hijau (H) dan biru (B):
Peesamaan (1) kita tulis
sebagai:
B + (M + H) = putih (l)
Menurut persamaan (2):
(M + H) = kuning (2)
Jadi: B + (M+H) = B+kuning = Putih
KESIMPULAN 1:
Untuk memperoleh putih dari biru, kita perlu menambahkan kuning
kepada biru, atau:
Kuning merupakan suatu
tambahan bagi biru guna memperoleh putih.
Karena itu kuning kita
sebut warna
komplemen-nya biru. (komplemen = tambahan).
C0NT0H lain: H + lembayung = putih
(sebab:
lembayung = (M + B)
Jadi: lembayung adalah
warna komplemennya hijau.
M + Cyan = putih
Jadi: Cyan adalah warna
komplemen-nya merah.
KESIMPULAN 2:
(Lihat Gambar 1-2). Kalau salah satu warna primer (yaitu merah, hijau
atau biru) tak-ada,
maka yang tampak adalah warna-komplemen.
Warna Cyan menandakan tak-adanya merah.
Lembayung menandakan tak-adanya
hiiau.
Kuning menandakan
tak-adanya biru.
1.4 WARNA JENUH
Jikalau merah dan hijau
dengan intensitas2 yang sama kita campur, maka teriadilah kuning (lihat Gb.l.2).
Jika intensitas merah secara
berangsur kita kurangi, maka kuning berubah dengan berbagai warna menuju ke hijau.
Kalau sebaliknya:
intensitas hijau yang secara berangsur kita kurangi, maka timbullah kuning yang berangsur menuiu merah.
Apabila intensitas
merah ada 3X intensitas hiiau, maka kita peroleh jingga. Dalam bentuk rumus,
keiadian ini dapat kita tuliskan sebagai:
3M + H =Jingga
1.5 WARNA TAK JENUH
Misalka, bahwa ada
sumber-cahaya merah, kita pun melihat merah Kepada merah itu
kita tambahkan putih yang
intensitasnya kian kita besarkan. Maka kita melihat, bahwa merahnya berangsur
berubah, dari merah menuju ke merah-muda.
Dengan ditambah tambahkan warna putih,
maka merah tersebut berangsur jadi kurang jenuh.
Dari hal-ikhwal warna
jenuh dan warna tak-jenuh tersebut, maka kita dapat menarik kesimpulan berikut:
Bila dengan menggunakan
warna2 primer merah, hijau dan biru hendak memperoleh sesuatu warna tertentu, maka
adalah 2 cara:
(a) Dengan menyampurkan
2 warna primer akan dapat diterbitkan suatu warna, atau:
(b) Kepada merah, hiiau
dan biru dalam jumlah
2 yang sama ditambahkanlah putih
sedemikian banyak, sampai
diperoleh derajat jenuh yang diinginkan.
CONTOH: Misalkan, bahwa di stasion-pemancar ada warna jingga tak-jenuh.
Jingga tak-ienuh ini boleh
kita anggap terdiri dari: jingga ienuh dengan sejumlah Putih. Dalam rumus:
Jingga tak jenuh = Jingga jenuh + Putih (a)
Jingga jenuh dapat
diperoleh dengan menambahkan merah kepada hijau dalam perbandingan 3:1, jadi:
(3M + H) = Jingga jenuh
(b)
Adapun putih dapat
diperoleh dengan menyampurkan merah, hijau dan biru dengan intensitas-intensitas
yang sama. Dalam rumus :
p(M + H + B) = Putih (c)
p = takaran untuk derajat-jenuh. Kian besar p, kian putihlah cahayanya.
Jadi (dari penamaan2 di
atas) jingga tak-jenuh dapat dinyatakan sebagai:
Jingga tak-jenuh = (3M+H) + p(M+H+B)
= (3+p)M
+ (1+p)H + p.B (d)
Kian besar p, maka kian
banyak Putih-lah yang dikandung Jingga, jadi kian tak-jenuh
Jingga-nya.
Jikalau dimisalkan,
bahwa derajat-jenuh ada sedemikian besar, hingga p = l, maka kita
perolehlah:
Jingga tak-Jenuh
= 4M+2H+ B (e)
Bagaimanakah sekarang penerima-TV kita harus mereproduksi jingga (dari persamaan e) tersebut? Dalam pekerjaan pen-dekoda-an itu, penerima-TV akan dapat bekerja sebagai berikut:
(a) Sinyal yang
dipancarkan dari pemancar mengandung M, H dan juga B. lni berarti, bahwa warna ybs adalah tak-jenuh. (Sebab: warna jenuh dibentuk
oleh hanya 2 warna primer).
(b) Kalau dari sinyal
tersebut (a) kita ambil putih-nya cukup banyak. hingga tertinggal 2
warna primer saja, maka
kita pun tahu nada-warna apakah yang ada pada kita.
Maka pen-dekoda-an: 4M +
2H + B yang terpancarkan dari pemancar itu akan dapat
berlangsung secara berikut:
4M + 2H+ B
dikurang M + H + B (putih)
------------------------------
tertinggal 3M + H
(jingga ienuh)
Dengan cara seperti di atas
kita sudah menemukan, bahwa 4M + 2H + B yaitu Jingga tak-jenuh dapat diuraikan dalam Jingga Jenuh + Putih.
CATATAN: Mata kita tak-sama peka-nya terhadap berbagai warna; ia lebih peka terhadap kuning ketimbang terhadap biru ataupun merah.
Lihat Gb.1-3: - lni adalah
gambar lengkung kepekaan mata,
Untuk cahaya dengan
panjang-gelombang kira2 600 nm (= kuning dan hijau) mata kita
adalah paling peka. Untuk
cahaya dengan panjang-gelombang yang kian pendek. maupun untuk cahaya dengan panjang-gelombang yang kian panjang, kepekaan
mata kian berkurang.
Kepekaan untuk kuning ada kira2 5... 6X kepekaan untuk biru. Kepekaan
untuk merah ada kira2 2... 3X kepekaan
untuk biru. Untuk biru, mata adalah paling kurang peka.
Gb.1-3 Tanggapan mata kita terhadap
berbagai warna, Mata adalah paling peka terhadap kuning.
Kalau kepekaan Inata
terhadap kuning kita anggap =1,0), maka
kepekaan terhadap hijau ada kira2 0,9 (mendekati paling peka) dan kepekaan
terhadap rnerah kira2 0,3 (=
= 1/3X dari kepekaan
terhadap kuning).
Dalam tehnik TV-hitam-putih,
maka nuansa2 (perubahan2) warna tersebut diubah menjadi nuansa2 (perubahan2) hitam-putih.
Karena kuning menjangkitkan nuansa yang paling terang, maka di layar-TV
hitam-putih, warna kuning; tampak sebagai bayangan yang paling cerah (paling putih). Merah menjangkitkan nuansa yang kurang
cerah, karena itu merah tampak sebagai putih ke-abu2-an. Biru membangkitkan nuansa
cahaya yang paling lemah, karena itu di layar hitam-putih, warna biru tampak sebagai
bayangan abu2 gelap. Jadi intensitas bayangan dilayar TV.hitam.putih
itu bervariasi sebanding dengan kesan kecerahan mata kita yang ditimbulkan oleh berbagai warna, lihat Gambar.1.4.
PemancarTV-warna memancarkan:
(1) Sinyal kecerahan tersebut di
atas yang kita namai pula sinyal Luminansi (luminance signal).
(2) Sinyal informasi
warna.
Jadi pemancar TV-warna se-akan2
dapat kita anggap sebagai kombinasi pemancar-warna dan pemancar
hitam putih.
Penerima TV-hitam-putih
akan mereproduksi sinyal terebut (1) saja.
Senin, 04 April 2022
SINYAL INFORMASI GAMBAR
6. INFORMASI
GAMBAR DAN AMPITUDO SINYAL VIDEO.
GAMBAR 6.1
Gambar 6.1. Sinyal video komposit dan
informasi gambarnya. (a) Gambar dengan batang lintasan vertical pada dasar
putih. (b) Informasi sebaliknya dengan batang putih pada dasar hitam.
Kedua contoh yang diperhatikan
pada gambar 6.1 melukiskan bagaimana sinyal video komposit bersesuaian dengan
informasi visual. Pada gambar 6.1a, sinyal video bersesuaian dengan satu garis
pemayaran untuk suatu bayangan (citra atau image) dengan sebuah batang vertical
hitam dibawah pertengahan sebuah kerangka putih. Pada gambar 6.1b, nilai hitam
dan putih didalam gambar di balik dari yang gambar 6.1a. sinyal – sinyal ini
diperlihatkan bersama polaritas penyelarasannya yang positif, tetapi ide yang
sama berlaku dengan polaritas penyelarasan yang negatif. Disebelah kiri pada
gambar 6.1a, sinyal kamera yang diperoleh melalui pemayaran yang aktif dari
bayagan mula – mula adalah pada level putih, sesuai dengan latar belakang
putih. Berkas pemayaran meneruskan gerak majunya melintas latar belakang putih
dari kerangka, dan sinyalnya berlanjut pada level putih yang sama sampai dia
mencapai tengah – tengah gambar. Pada waktu batang hitam dipayar, sinyal video
berubah ke level hitam dan tetap disana sementara keseluruhan lebar batang
hitam dipayar. Kemudian amplitude sinyal berubah ke level putih, sesuai dengan
latar belakang putih dan terus pada level tersebut sementara gerak pamayaran
maju menuju sisi kanan dari bayangan diselesaikan. Pada akhir penjajakan yang
dapat terlihat, pulsa
pengosongan horizontal membawa amplitude sinyal video ke level hitam untuk
memulai pengulangan jejak. Setelah pengulangan jejak, gerak pemayaran maju
dimulai lagi pada garis horizontal berikutnya. Masing – masing garis horizontal
yang berturutan dalam medan genap dan ganjil dipayar dalam cara ini. Sebagai
akibatnya, sinyal video komposit yang sesuai untuk keseluruhan ganbar
mengandung suatu urutan sinyal dengan suatu bentuk gelombang yang identik
dengan yang diperlihatkan pada gambar 6.1a untuk masing –masing garis pemayaran
horizontal yang aktif. Untuk bayangan pada gamabr 6.1b idenya adalah sama,
tetap sinyal kamera bersesuaian dengan sebuah batang vertical putih dibawah
tengah –tengah dari sebuah kerangka hitam. Sinyal ini mulai dan berakhir pada
level hitam dan berada pada level putih di tengah –tengah. Ini semuanya adalah
tipe bayangan (image) yang sederhana, tetapi kolerasinya dapat diperluas ke
bayangan yang memiliki sebarang distribusi cahaya dan naungan. Jika polanya
mengandung lima batang hitam vertical terhadap suatu latar belakng putih,
sinyal video komposit pada masing – masing garis horizontal akan mencakup lima
variasi yang cepat dalam amplitude dari putih ke hitam. Sebagai contoh lainnya,
misalnya polanya terdiri atas sebuah batang hitam horizontal melintang tengah –
tengah sebuah kerangka putih. Maka, kebanyakan garis – garis horizontal akan
mengandung informasi gambar putih selama keseluruhan periode pengulangan jejak.
Amplitudo sinyal kamera akan tetap pada level putih kecuali selama interval
pengosongan. Akan tetapi, untuk garis – garis horizontal yang memayar batang
hitam, sinyal kamera dihasilkan pada level hitam.
TEGANGAN KHAS SINYAL VIDEO.
Sebuah gambar yang actual yang
terdiri atas elemen – elemen yang memiliki jumlah cahaya dan naungan yang
berbeda dengan distribusi yang tidak seragam dalam garis –garis horizontal dan
melalui medan –medan vertical. Bila didalam adegan terdapat gerakan, sinyal
video mengandung suatu urutan dari tegangan –tegangan yang berubah secara
kontinu. Didalam masing – masing garis, amplitude sinyal kamera berubah – ubah
untuk elemen gambar yang berbeda. Selain itu, bentuk – bentuk gelombang dari
sinyal kamera untuk garis –garis akan berubah didalam medan. Bentuk – bentuk
gelombang yang dihasilkan diperlihatkan oleh gambar – gambar osiloskop dari
suatu sinyal video khas pada gambar 6.2. Sinyal ini adalah untuk kisi pengatur
dari tabung gambar. Dia mempunyai amplitude sebesar 100V puncak ke puncak dan
polaritas penyelarasan yang negatif.
Gambar 6.2. Gambar – gambar osiloskop sinyal video komposit, yang diperlihatkan dengan penyelarasan yang turun pada polaritas yang negatif. (a) dua garis horizontal dengan informasi gambaran antara pulsa – pulsa pengosongan H. penyapuan bagian dalam osiloskop pada 15.750/2=7,875 Hz. (b) dua medan informasi gambar vertikal antara pulsa – pulsa pengosongan V. penyapuan bagian dalam osiloskop pada 60/2=30 Hz.
Bentuk Gelombang Osiloskop Apabila anda melihat pola-pola osiloskop biasanya variasi sinyal tidak jelas karena mereka berubah ubah terhadap gerakan
dalam adegan. Akan tetapi jejak osiloskop akan mengunci untuk pengosongan H
dan pulsa-pulsa penyelarasan pada laju kecepatan yang mantap sebesar 15.750 Hz
atau pada pulsa-pulsa V pada 60Hz. Lebih akan lebih baik jika frekuensi penyapuan
horizontal bagian dalam dari osiloskop disetel pada setengah frekuensi ini,
untuk memperlihatkan suatu sinyal video untuk dua garis, seperti pada Gambar 6.2a,
ataupun untuk dua medan seperti pada gambar 6.2b. Maka masing-masing siklus
diperlihatkan sebesar mungkin dan dengan keseimbangan selama waktu pengosongan.
LAJU GARIS (LINE RATE)
Bila penyapuan osiloskop disetel pada 15.750/2=7872 Hz, anda akan
melihat dua garis H dari sinyal video (Gambar 6.2a). Jika adegan memperlihatkan
orang berjalan melintasi ruangan, sebagai suatu contoh dari gerak horisontal,
variasi sinyal kamera bergerak horisontal, variasi sinyal kamera bergerak
melintas layar osiloskop diantara pulsa H.
LAJU MEDAN (FIELD RATE)
Bila penyapuan osiloskop adalah 60/2=30 Hz, anda melihat dua medan
sinyal video (Gambar 6.2b). Gerak vertikal yang manapun dalam adegan terlihat
sebagai gerakan dalam variasi sinyal kamera melintasi jejak antar pulsa-pulsa
penyelarasan. Garis-garis yang bertambah panjang melintasi puncak dan dasar
penyelarasan vertikal dalam pola osiloskop disebabkan oleh penyelarasan
horisontal. Anda tidak melihat pulsa-pulsa penyamaan dalam pola ini sebab
osiloskop dikunci pada frekuensi pemayaran vertikal. Untuk melihat pulsa-pulsa
pemayaran dan gerigi-gerigi dalam pulsa vertikal, anda harus menyetel frekuensi
penyapuan bagian dalam dari osiloskompada 31.500 Hz atau ke suatu perkalian
tambahan. Biasanya, penyapuan horisontal dari osiloskop juga harus diperluas.
BENTUK GELOMBANG OSILOSKOP DAN
INFORMASI GAMBAR.
Lihat gambar 6.3. Citra (image)
pada Gambar 6.3a dengan batang batan horisontal dan vertikal, disebut pola
garis silang (crosshatch pattern). Jenis citra ini menghasilkan variasi-variasi
sinyal kamera yang serupa untuk pemayaran horisontal dan juag vertikal. Akan
tetapi, penerapan utama dari pola garis silangadalah untuk memeriksakelinieran
pemayaran horisontal dan vertikal untuk penjarakan yang sama dari batang-batang
tersebut. Pola garis silang juga digunakan jika dilakukan penyesuaian
konvergensi pada tabung-tabung gambar berwarna. Pada Gambar 6.3b. Bentuk
gelombang osiloskop memperlihatkan dua garis H dari sinyal kamera sebab
frekuensi penyapuan bagisn dalam adalah 8775 Hz. Variasi-variasi ini sesuai
dengan batang-batang vertikal dalam gambar. Pada Gambar 6.3c, bentuk gelombang
osiloskop memperlihatkan dua medan vertikal sebab
Gmabar 6.3. Bagaimana bentuk-bentuk gemlombang sinyala video berhubungan dengan informasi gambar. (a) Pola garis silang pada layar tabung gambar. (b) Informasi gambar horisontal dengan pulsa-pulsa penyelarasan V. Frekuensi penyapuan bagian dalam adalah 30Hz. Variasi-variasi sinyal kamera ini sesuai dengan batang-batang horisontal pada gambar. Pada kebanyakan osiloskop, posisi 30 dan 7875 Hz ditandai sakelar frekuensi penyapuan bagian dalam sebagai V dan H untuk televisi. Ini membuatnya mudah untuk berpindahdiantara sinyal video untuk dua garis pemayaran H dan untuk dua medan pemayaran V.
INFORMASI GAMBAR DAN FREKUENSI SINYAL VIDEO.
Frekuensi – frkeuensi sinyal kamera bervariasi dari sekitar 30 hz sampai 4 MHz.
perhatikan bahwa 30Hz pada ujung rendah. Merupakan frekuensi audio, dan 4 Mhz
pada ujung yang tinggi sebenarnya adalah suatu frekuensi radio. Rentang
frekuensi berlebar ini membuat sinyal video suatu sinyal berlebar bidang lebar.
Dia menjangkau suatu rangkuman sebesar kira kira 17 oktaf. Sinyal kamera
mempunyai perubahan- perubahan yang sangat cepat dalam sebuah garis sebab
pemayaran horisontal adalah cepat. Secara khusus, suatu sinyal 4 MHz menyatakan
suatu perubahan dalam amplitude antara dua elemen gambar yang berturut-turut
yang membutuhkan 0.25 uS dalam pemayaran horizontal. Perhatikan bahwa batas 4
Mhz hanyalah pembatasan legal yang ditentukan oleh saluran 6 Mhz dari stasion
pemancar televisi. Dalam pemayaran vertical, variasi- variasi sinyal kamera
mempunyai frekuensi-frekuensi yang jauh lebih rendah karena kecepatan
pemayaran lebih lambat. Suatu sinyal 30Hz menyatakan suatu perubahan amplitude
antara dua medan berurutan yang berulang pada laju 60 Hz. Frekuensi-frekuensi
yang lebih rendah daripada 30 Hz dapat dipandang sebagai suatu perubahan dalam
level arus searah (DC).
FREKUENSI VIDEO YANG TERCAKUP
DALAM PEMAYARAN HORISONTAL.
Pada pola papan peraga dalam
gambar 6.4, sinyal gelombang persegi di puncak menyatakan variasi – variasi.
Sinyal kamera dari sinyal video
komposut yang diperoleh dalam pemayaran satu garis horizontal. Adalah
diinginkan untuk mendapatkan frekuensi dari gelombang persegi ini. Frekuensi
variasi sinyal kamera sangat penting dalam menetukan apakah sitem telvisi dapat
memancatrkan dan menghasilkan kembali informasi gambar yang sesuai. Untuk
menentukan frekuensi dari sebarang variasi sinyal, waktu untuk dsati siklus
lengkap harus diketahui. Suatu siklus termasuk waktu dari satu titik pada
bentuk gelombang sinyal ke titik berurutan berikutmya yang memiliki besaran
dan arah yang sama. Maka frekuensi adalah kebalikan dari periode. Sebgai
contoh, periode unutk pemayaran satu garis garis horizontal adalah 1/15.750
dtik dan berarti frekuensi pemayaran garis adalah 15.750 Hz. Akan tetapi
variasi sinyal kamera dalamn sati garis horizontal perlu memiliki suatu periode
yang lebih pendek dan frekuensi yang lebih tinggi. Perhatikan bahwa satu siklus
lengkap dari sinyal kamera pada gambar 6.4 mencakup informasi dalam dua elemen
gambar yang berdekatan, satu putih yang lain hitam. Hanya setelah memayar segi
empat yang kedua sinyal kamera berul-betul Memiliki besar dan arah yang sama
seperti pada mulainya segi empat pertama. Jadi, untuk mendapatkan frekuensi variasi sinyal kamera, kita harus mengetahui berapa lama waktu di butuhkan untuk
memayar dua persegi yang berurutan. Waktu adalah periode untuk satu siklus dari
sinyal kamera resultante. Sekarang kita dapat menghitung periode satu siklus
lengkap dari variasi sinyal kamera gelombang persegi pada Gambar 6.4. Periode
untuk pemayaran garis horizontal adalah 1/15.750 atau 63.5 udet termasuk
penjejakan dan pengulangan jejak (retrace). Dengan mengetahui waktu pengosongan
horizontal sebesar 10.2 udet, waktu yang tertinggal untuk penjejakan visible adalah
53.3 udet. ini adalah waktu yang diperlukan untuk memayar semua elemen gambar
dalam sebuah garis. Ke 12 segi empat dalam satu garis dipayar dalam 53.3 udet.
waktu T yang lebih kecil diperlukan untuk memayar dua persegi yakni 2/12 atau
1/6, sebesar 53.3 udet. T=1/6 x53.3 udet = 8.8 uDet Periode untuk satu siklus
lengkap dari sinyal gelombang adalah T, dan frekuensi f= 1/T jadi , f=1/T =
1/8.8 uDet = 0.11 Mhz pada Gambar 6.4 frekuensi variasi sinyal kamera gelombang
persgi yang diperlihatkan pada puncak bila papan pemeriksa adalah 0.11 Mhz.
GAMBAR TUGAS:
Buat analisa untuk gambar berikut ini, pembahasan dikolom komentar!
-
Gambar dilayar penerima TV Hitam Putih (BW), perhatikan garis-garis Pemayaran dan garis-garis Hitam pengosongan Horisontal. ...
-
6. INFORMASI GAMBAR DAN AMPITUDO SINYAL VIDEO . GAMBAR 6.1 Gambar 6. 1 . Sinyal video komposit dan informasi gambarnya. (a) Gambar den...
-
WARNA Guna memahami tehnik televisi-warna, kita perlu mengetahui sedikit tentang warna. 1.1 CAHAYA PUTIH Cahaya yang tampak oleh m...